Kawalkaltim.com | Mahakam Ulu – Alkisah, ada sebuah pohon besar yang selama bertahun-tahun menjadi tempat bergantung seluruh makhluk di sekitarnya. Akarnya mengalirkan kehidupan, rantingnya memberi perlindungan. Namun ketika mata air yang menghidupi akar itu perlahan mengering, dedaunan mulai kehilangan kesegarannya dan kehidupan di sekelilingnya ikut terancam. Begitulah gambaran Sungai Mahakam, urat nadi kehidupan masyarakat pedalaman yang kini kehilangan sebagian denyutnya akibat kemarau berkepanjangan.
Surutnya debit Sungai Mahakam selama kurang lebih dua pekan akibat musim kemarau tidak hanya menghambat aktivitas transportasi sungai, tetapi juga berdampak langsung terhadap distribusi logistik menuju Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu).
Kondisi tersebut menyebabkan pasokan kebutuhan pokok ke wilayah perbatasan semakin berkurang, waktu pengiriman menjadi lebih lama, dan memunculkan kekhawatiran masyarakat apabila situasi ini terus berlangsung.
Warga Long Pahangai, Margaretha Tubuq, mengatakan distribusi logistik kini tidak lagi berjalan normal. Jalur sungai yang selama ini menjadi akses utama pengangkutan barang berubah menjadi dangkal sehingga sulit dilalui.
“Sekarang long boat sudah tidak berani melintas karena akses di riam sangat terbatas. Speed boat juga sudah tidak ada yang beroperasi karena risikonya cukup tinggi,” kata Tubuq, Kamis (6/8).
Ia menjelaskan, berhentinya operasional transportasi sungai memaksa masyarakat mengandalkan jalur darat untuk mendatangkan berbagai kebutuhan pokok. Namun, kondisi infrastruktur jalan menuju Long Pahangai maupun Kecamatan Long Apari dinilai belum mampu menggantikan peran Sungai Mahakam sebagai jalur utama distribusi barang.
“Akibatnya pasokan barang ke kampung menjadi berkurang dan terlambat,” ucapnya.
Situasi tersebut dikhawatirkan akan berdampak pada ketersediaan berbagai kebutuhan penting masyarakat apabila kemarau terus berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Margaretha berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar masyarakat di wilayah perbatasan tidak mengalami kesulitan memperoleh kebutuhan pokok.
“Kami berharap pemerintah memikirkan solusi agar masyarakat di daerah perbatasan tetap bisa mendapatkan sembako, BBM, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya seperti sedia kala dengan harga yang normal,” ujarnya.
Menurutnya, keberlanjutan pasokan logistik menjadi kebutuhan mendesak mengingat masyarakat di kawasan perbatasan masih sangat bergantung pada transportasi sungai sebagai jalur distribusi utama.
Apabila kondisi Sungai Mahakam terus mengalami penyusutan debit air akibat kemarau, masyarakat khawatir aktivitas ekonomi, pelayanan kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari akan semakin terganggu.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa wilayah pedalaman Kalimantan masih menghadapi tantangan besar dalam konektivitas logistik. Ketergantungan terhadap satu moda transportasi membuat perubahan kondisi alam dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Di ujung kemarau, Sungai Mahakam seolah berbicara lewat alirannya yang kian menyusut. Riak-riaknya seakan memanggil perhatian, mengingatkan bahwa di balik tenangnya permukaan air, ribuan harapan masyarakat pedalaman ikut bergantung pada deras atau surutnya arus kehidupan yang mengalir menuju perbatasan.
Penulis : Amin YS
Editor : Annanda






