Kawalkaltim.com, Balikpapan — Api terkadang tidak datang dengan suara. Ia merayap diam-diam dari balik semak, menyentuh rumput kering, lalu menjalar seperti kabar buruk yang tak mengenal pagar. Di satu sisi ada permukiman, rumah-rumah dan aktivitas warga. Di sisi lain, lahan terbuka yang tampak sepele justru dapat berubah menjadi pintu masuk bagi bencana.
Gambaran itu kembali terlihat di Kalimantan Timur. Kebakaran lahan terjadi di kawasan Perumahan Taman Sari VIP II, Jalan Taman Sari RT 25, Kelurahan Graha Indah, Kecamatan Balikpapan Barat, Jumat (7/8/2026) sore.
Kebakaran tersebut dilaporkan ke Pusdalops BPBD Provinsi Kalimantan Timur pada pukul 15.47 WITA. Laporan disampaikan oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Graha Indah, Siddiq Nur Alam.
Petugas kemudian bergerak menuju lokasi. Regu 3 UPTD PBD Wilayah Utara yang dipimpin Danru Alfianur tiba sekitar pukul 16.30 WITA untuk melakukan penanganan.
Satu unit mobil tangki dari Gunung Samarinda turut dikerahkan. Petugas bersama unsur terkait berupaya memutus pergerakan api agar tidak menjalar ke lahan lain maupun mendekati kawasan permukiman.
Berdasarkan kaji cepat Pusdalops BPBD Provinsi Kaltim, luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar 4 x 5 meter persegi.
Api akhirnya berhasil dikendalikan dan dipadamkan sekitar pukul 16.40 WITA. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian tersebut.
Penanganan tidak hanya dilakukan Regu 3 UPTD PBD Wilayah Utara. LPM Graha Indah dan masyarakat sekitar juga ikut membantu proses pemadaman.
Di tengah cepatnya api menjalar pada material kering, respons dalam hitungan menit menjadi pembeda antara kebakaran kecil dan bencana yang lebih besar.
Petugas Pusdalops BPBD Provinsi Kaltim, Muriono, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh potensi kebakaran lahan, terutama ketika kondisi lingkungan mulai kering.
“Muriono mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan, terutama saat kondisi lingkungan kering. Penanganan sejak awal dinilai penting agar api tidak cepat membesar dan merambat ke kawasan permukiman,” ujarnya.
BPBD juga meminta masyarakat segera menyampaikan laporan apabila menemukan titik api. Kecepatan informasi menjadi bagian penting dari mata rantai penanganan kebakaran.
“BPBD mengimbau masyarakat yang menemukan titik api agar segera melaporkannya kepada petugas terkait. Informasi yang cepat dan akurat dapat mempercepat proses penanganan sekaligus mencegah kebakaran meluas,” katanya.
Empat Titik Karhutla Menghanguskan 7,5 Hektare di Paser
Ancaman kebakaran lahan tidak hanya terjadi di kawasan permukiman Balikpapan.
Sehari sebelumnya, Kamis (6/8/2026), empat kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan terjadi di Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser.
Empat titik tersebut tersebar di Desa Jone dan Desa Tepian Batang. Total luasan lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 7,5 hektare.
Kebakaran pertama dilaporkan sekitar pukul 10.30 WITA di Gang Alif 2 RT 01, Desa Jone. Area yang terbakar diperkirakan sekitar 0,5 hektare dengan material berupa pepohonan kayu dan semak belukar.
“Area yang terbakar diperkirakan seluas 0,5 hektare dengan material berupa pepohonan kayu dan semak belukar,” ujar Muriono.
Kobaran berikutnya muncul sekitar pukul 12.30 WITA di RT 12, Desa Tepian Batang. Sekitar 1,5 hektare lahan dilaporkan terbakar, dengan vegetasi berupa pepohonan kayu kering dan semak belukar.
Kebakaran kembali terjadi sekitar pukul 13.00 WITA di Jalan Ridwan Swidi, Desa Tepian Batang. Luasan lahan yang terdampak diperkirakan sekitar 0,5 hektare.
Sementara itu, kebakaran keempat dilaporkan sekitar pukul 17.30 WITA di Jalan Pamplas RT 05, Desa Jone.
Lokasi terakhir menjadi titik dengan luasan terbesar, yakni sekitar 5 hektare. Material yang terbakar berupa lahan gambut di kawasan pepohonan kayu gelam dan perkebunan kelapa sawit.
Tim Karhutla Kabupaten Paser dikerahkan untuk melakukan pemadaman sekaligus mengantisipasi potensi kabut asap dan perambatan api ke wilayah yang lebih luas.
Operasi pemadaman melibatkan BPBD Paser, Dinas Pemadam Kebakaran Paser, Satpol PP/Satlinmas Paser, Brimob Paser, Sekawan Rescue, serta masyarakat.
Kekuatan armada yang diterjunkan terdiri dari tiga unit BPBD Paser, tiga unit Dinas Pemadam Kebakaran Paser, satu unit Satpol PP/Satlinmas, dan satu unit Brimob. Personel Sekawan Rescue dan masyarakat turut memperkuat penanganan di lapangan.
Namun, medan tidak selalu memberikan jalan mudah bagi petugas. Keterbatasan sumber air, angin kencang, serta material yang mudah terbakar menjadi sejumlah kendala dalam proses pemadaman.
Secara visual kondisi cuaca dilaporkan cerah dan berdasarkan informasi BMKG juga berada dalam kondisi cerah.
Setelah melalui proses pemadaman, kebakaran di Jalan Pamplas RT 05 dinyatakan selesai ditangani. Tim gabungan kemudian kembali ke pos masing-masing setelah memastikan api tidak kembali meluas.
Alarm yang Tak Boleh Diabaikan
Dua kejadian dalam dua hari di wilayah berbeda itu memperlihatkan satu persoalan yang sama: lahan kering dapat menjadi ruang kecil bagi api untuk memulai perjalanan panjangnya.
Di Balikpapan, api muncul hanya beberapa meter dari lingkungan permukiman. Di Paser, empat titik kebakaran mencapai total sekitar 7,5 hektare.
Jarak antara bara dan bencana terkadang hanya sepanjang satu hembusan angin.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika lahan dalam kondisi kering dan angin bertiup kencang. Aktivitas yang berpotensi memicu api di lahan terbuka juga perlu dihindari.
Kebakaran lahan bukan semata persoalan petugas pemadam. Ia adalah ujian terhadap kepedulian bersama. Sebab, ketika api sudah membesar, yang dipertaruhkan bukan hanya semak dan pepohonan, tetapi juga udara, rumah, kesehatan, keselamatan, dan ruang hidup masyarakat.
Pada akhirnya, api seolah sedang berbicara kepada manusia melalui asapnya: alam tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya menunggu apakah manusia memilih untuk menjaga atau terlambat menyadari.
Dan ketika bara mulai menyala, lingkungan seakan mengetuk pintu kesadaran kita—mengingatkan bahwa bencana yang besar sering kali bermula dari sesuatu yang dianggap kecil.
Penulis : Rudiantoro
Editor : Annanda






