Kawalkaltim.com | KUTAI BARAT — Demokrasi tidak selalu lahir dari ruang sidang yang megah. Kadang ia tumbuh dari percakapan sederhana di lorong pasar, dari keluhan pedagang dan dari keberanian seorang warga mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Karena itu, suara masyarakat tidak seharusnya dianggap sebagai gangguan. Ia adalah alarm yang mengingatkan pemerintah ketika ada persoalan yang perlu diperbaiki.
Masyarakat dan pelaku usaha kecil diminta tidak ragu menyampaikan persoalan yang mereka hadapi kepada wakil rakyat.
Pesan tersebut disampaikan Ketua DPC Partai Demokrat Kutai Barat, Noratim, setelah melakukan dialog langsung dengan masyarakat di Pasar Barong Tongkok, Jumat (21/8/2026).
Menurut Noratim, turun langsung ke lapangan penting agar anggota DPRD mengetahui persoalan masyarakat secara nyata.
“Demokrat selalu turun ke lapangan. Masyarakat jangan takut menyampaikan persoalan kepada Demokrat,” ujarnya kepada Media Kawalkaltim.com, Jum’at (21/8/2026).
Ia mengatakan aspirasi masyarakat akan diteruskan kepada pemerintah sepanjang memiliki dasar dan sesuai dengan regulasi.
“Kalau persoalannya sesuai dengan regulasi dan aturan, tentu akan kami perjuangkan agar dapat dibantu pemerintah. Tetapi kalau tidak sesuai aturan, kami juga akan memberikan pemahaman kepada masyarakat,” jelasnya.
Noratim menilai komunikasi antara pemerintah, DPRD dan masyarakat harus terus dibangun.
Menurutnya, pemerintahan saat ini masih berada dalam fase awal menjalankan roda pemerintahan sehingga masih banyak persoalan yang harus diselesaikan.
“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah. Bupati kita juga masih baru menjalankan tugas dan tanggung jawabnya,” katanya.
Karena itu, ia menilai DPRD dan partai politik memiliki peran untuk membantu menyampaikan kebutuhan masyarakat.
Namun, aspirasi tersebut juga harus disampaikan secara terbuka dan berdasarkan kondisi yang sebenarnya.
Noratim mengajak masyarakat meninggalkan polarisasi politik setelah Pilkada.
“Kita lupakan politik Pilkada kemarin. Siapa memilih siapa, siapa tidak memilih siapa, semuanya sudah berlalu,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat, pemerintah dan DPRD kembali membangun komunikasi.
“Sekarang adalah zaman komunikasi,” tegasnya.
Bagi Noratim, demokrasi tidak seharusnya berhenti ketika proses pemilihan selesai.
Setelah pesta politik usai, masyarakat tetap membutuhkan pemerintah untuk memperbaiki jalan, mengelola pasar, membantu UMKM, menyediakan fasilitas publik dan menjawab berbagai persoalan sehari-hari.
Karena itu, ruang aspirasi harus tetap terbuka.
Sebab suara masyarakat yang tidak pernah disampaikan akan sulit masuk ke meja kebijakan.
Dalam demokrasi, rakyat bukan hanya pemilik suara ketika pemilu berlangsung. Rakyat juga pemilik hak untuk didengar setelah suara itu diberikan.
Maka keberanian masyarakat menyampaikan keluhan bukanlah tanda bahwa pemerintah gagal. Justru dari keluhan yang disampaikan secara terbuka, pemerintah dapat mengetahui bagian mana yang harus diperbaiki.
Sebab demokrasi yang sehat bukan demokrasi yang tidak memiliki keluhan, melainkan demokrasi yang mampu mendengar keluhan dan mengubahnya menjadi perbaikan.
KawalKaltim.com — Mengawal Fakta, Menyuarakan Aspirasi, Menjaga Kepentingan Publik.
Penulis : Amin YS
Editor : Annanda






