Senja Maut di Benangin I: Lima Nyawa Melayang, Satu Kritis dalam Serangan Brutal

Selasa, 21 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan Foto: Ilustrasi suasana lokasi kejadian pembunuhan satu keluarga di kawasan hutan Desa Benangin II, Kecamatan Teweh Timur, Barito Utara. Tampak garis polisi terpasang di sekitar area, sementara petugas melakukan olah tempat kejadian perkara di dekat pondok yang terbakar usai insiden berdarah yang menewaskan lima orang. (Ilustrasi AI)

Keterangan Foto: Ilustrasi suasana lokasi kejadian pembunuhan satu keluarga di kawasan hutan Desa Benangin II, Kecamatan Teweh Timur, Barito Utara. Tampak garis polisi terpasang di sekitar area, sementara petugas melakukan olah tempat kejadian perkara di dekat pondok yang terbakar usai insiden berdarah yang menewaskan lima orang. (Ilustrasi AI)

Kawalkaltim.com, Muara Teweh — Sunyi kawasan hutan produksi di perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah mendadak berubah menjadi panggung tragedi berdarah. Lima orang dalam satu keluarga ditemukan tewas mengenaskan, sementara satu korban lainnya kini berjuang antara hidup dan mati usai diserang secara brutal oleh sekelompok orang tak dikenal.

Peristiwa memilukan itu terjadi di kawasan hutan KM 95 dekat jalan perusahaan HPH PT Timber Dana, Desa Benangin I, Kecamatan Teweh Timur, Kabupaten Barito Utara, Minggu (19/4) sekitar pukul 16.30 WIB. Lokasi yang seharusnya menjadi ruang hidup bagi masyarakat justru menjadi saksi bisu keganasan yang sulit diterima nalar.

Data yang dihimpun menyebutkan, dari enam korban, lima orang dinyatakan meninggal dunia. Mereka adalah Cuah (55), Hasna (40), Tasya Haulina (17), David (3), dan Ono (50). Sementara satu korban selamat, Alfian (40), mengalami luka kritis dan hingga kini masih menjalani perawatan intensif di RSUD Muara Teweh.

Keterangan saksi yang juga merupakan korban selamat mengungkap kronologi yang mencekam. Sekitar pukul 16.30 WIB, tiga orang terduga pelaku datang menggunakan mobil jenis Kijang. Mereka tidak sekadar datang—mereka membawa ancaman, dengan senjata tajam dan senjata api rakitan di tangan.

Tanpa banyak kata, pelaku menanyakan identitas korban. Namun pertanyaan itu hanya menjadi jeda singkat sebelum kekerasan pecah. Serangan brutal pun terjadi. Tebasan demi tebasan dilancarkan tanpa ampun.

Tak berhenti di situ, para pelaku bahkan diduga menyisir area sekitar untuk mencari korban lain, memperluas lingkaran kekerasan yang sudah terlanjur berdarah.

Setelah memastikan para korban tak berdaya, pelaku diduga membakar pondok atau warung milik korban—seolah ingin menghapus jejak, atau mungkin meninggalkan pesan teror. Api melahap bangunan sederhana itu sebelum para pelaku melarikan diri sekitar pukul 17.30 WIB.

Warga yang mengetahui kejadian tersebut bergerak cepat. Mereka berupaya menyelamatkan korban yang masih hidup. Alfian kemudian dilarikan ke RSUD Muara Teweh menggunakan kendaraan warga dalam kondisi kritis.

Proses evakuasi jenazah dilakukan keesokan harinya, Senin (20/4), oleh tim medis menggunakan lima unit ambulans. Seluruh korban tiba di RSUD Muara Teweh sekitar pukul 11.00 WIB dan langsung dibawa ke kamar jenazah.

Identitas tiga terduga pelaku telah dikantongi aparat. Mereka masing-masing berinisial L (55), P (50), dan M (52), yang diketahui merupakan warga Desa Benangin I, Kecamatan Teweh Timur. Namun hingga kini, ketiganya masih dalam pengejaran.

Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga menorehkan luka psikologis bagi warga di wilayah perbatasan. Rasa aman yang selama ini dianggap ada, mendadak runtuh oleh kekerasan yang begitu telanjang.

Di tengah hutan yang mestinya tenang, tragedi ini menjadi pengingat keras: bahwa konflik, dendam, atau motif apa pun yang melatarbelakangi, ketika dibiarkan tanpa kendali, dapat menjelma menjadi petaka yang merenggut segalanya.

Aparat penegak hukum kini dituntut bergerak cepat, bukan hanya untuk menangkap pelaku, tetapi juga mengungkap motif di balik kebrutalan ini. Sebab di balik setiap nyawa yang hilang, ada keadilan yang menunggu untuk ditegakkan.

Penulis : Amin YS

Editor : Annanda

Berita Terkait

Menyisir Jejak APBD: Polisi Geledah BPBD Kutai Barat dalam Kasus Dugaan Penyimpangan Anggaran
DPR RI Diminta Turun ke Kutai Barat, Persoalan Plasma Sawit hingga Dugaan Kriminalisasi Warga Jadi Sorotan
BNI Perkuat Arah Perbankan Masa Depan Lewat Strategi ESG
𝐇𝐮𝐤𝐮𝐦 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤𝐧𝐲𝐚: 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐂𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐊𝐚𝐬𝐮𝐬 𝐁𝐞𝐠𝐚𝐥 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐁𝐮𝐤𝐭𝐢 𝐊𝐞𝐬𝐢𝐠𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐏𝐨𝐥𝐫𝐞𝐬 𝐊𝐮𝐛𝐚𝐫
𝐁𝐮𝐝𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐦𝐚𝐧𝐭𝐨 𝐁𝐞𝐛𝐚𝐬, 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤 𝐊𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐣𝐢 𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡 𝐊𝐞𝐚𝐝𝐢𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐊𝐮𝐭𝐚𝐢 𝐁𝐚𝐫𝐚𝐭
“Di Mana Keadilan di Negeri Ini?” — Tangis Anak Yatim Pecah Saat Lahan Keluarganya Digarap PT NPR
Putusan Pengadilan Sudah Terbit, Kompensasi Belum Dibayar: Warga Dilang Putih Bersuara
Kuota Batu Bara Dipangkas, Ribuan Buruh Tambang Kaltim Terancam Tumbang

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 18:54 WIB

Menyisir Jejak APBD: Polisi Geledah BPBD Kutai Barat dalam Kasus Dugaan Penyimpangan Anggaran

Rabu, 3 Juni 2026 - 09:01 WIB

DPR RI Diminta Turun ke Kutai Barat, Persoalan Plasma Sawit hingga Dugaan Kriminalisasi Warga Jadi Sorotan

Senin, 1 Juni 2026 - 05:03 WIB

BNI Perkuat Arah Perbankan Masa Depan Lewat Strategi ESG

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:41 WIB

𝐇𝐮𝐤𝐮𝐦 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤𝐧𝐲𝐚: 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐂𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐊𝐚𝐬𝐮𝐬 𝐁𝐞𝐠𝐚𝐥 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐁𝐮𝐤𝐭𝐢 𝐊𝐞𝐬𝐢𝐠𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐏𝐨𝐥𝐫𝐞𝐬 𝐊𝐮𝐛𝐚𝐫

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:52 WIB

𝐁𝐮𝐝𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐦𝐚𝐧𝐭𝐨 𝐁𝐞𝐛𝐚𝐬, 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤 𝐊𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐣𝐢 𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡 𝐊𝐞𝐚𝐝𝐢𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐊𝐮𝐭𝐚𝐢 𝐁𝐚𝐫𝐚𝐭

Berita Terbaru

Ilustrasi

Nasional

BNI Perkuat Arah Perbankan Masa Depan Lewat Strategi ESG

Senin, 1 Jun 2026 - 05:03 WIB