Korupsi Berulang di Kutim, Alarm Keras untuk DPRD: Fungsi Pengawasan Dipertanyakan

Sabtu, 18 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan: SUARA PEMUDA — Ketua Pemuda Kutim Hebat, Habibi, saat memberikan pernyataan terkait maraknya kasus korupsi di Kutai Timur. (Dok: Kawalkaltim/Kurniansyah)

Keterangan: SUARA PEMUDA — Ketua Pemuda Kutim Hebat, Habibi, saat memberikan pernyataan terkait maraknya kasus korupsi di Kutai Timur. (Dok: Kawalkaltim/Kurniansyah)

Kawalkaltim.com, Kutim — Di sebuah negeri yang konon memiliki lumbung padi melimpah, para penjaga ditugaskan untuk memastikan setiap butir tersimpan rapi. Namun waktu berjalan, dan tanpa disadari, lumbung itu mulai berlubang. Bukan karena badai, melainkan oleh tikus-tikus yang datang berulang, menggigit perlahan, sementara para penjaga justru sibuk menghitung karung dari kejauhan.

Gambaran itu kini seperti cermin bagi kondisi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Rentetan kasus korupsi yang menjerat jajaran eksekutif dalam satu dekade terakhir memantik sorotan tajam terhadap fungsi pengawasan DPRD.

Kritik keras disampaikan Habibi. Ia menilai maraknya dugaan penyelewengan anggaran daerah menjadi indikator lemahnya kontrol legislatif.

Kasus terbaru mencuat setelah penetapan Kepala Dinas Ketahanan Pangan sebagai tersangka dalam dugaan korupsi pengadaan mesin Rice Processing Unit (RPU) oleh Polda Kalimantan Timur.

“Maraknya kasus penyelewengan APBD adalah alarm keras. Di mana fungsi pengawasan DPRD selama ini? Fungsi pengawasan bukan pajangan,” tegasnya, Kamis (16/4/2026).

Menurutnya, DPRD sebagai representasi rakyat semestinya berada di garis depan dalam memastikan setiap rupiah anggaran digunakan sesuai aturan. Jika eksekutif berulang kali tersandung kasus hukum, maka sudah seharusnya legislatif melakukan evaluasi menyeluruh.

“APBD adalah hak rakyat, bukan untuk jeruji. Jangan sampai kepercayaan publik ikut runtuh karena lemahnya pengawasan,” ujarnya.

Dalam catatan yang dihimpun, sejumlah kasus besar pernah terjadi di Kutim. Mulai dari perkara suap proyek infrastruktur pada 2019–2020 yang menyeret kepala daerah, hingga dugaan korupsi di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) pada 2024 dengan estimasi kerugian sekitar Rp4,9 miliar.

Tak hanya itu, dugaan korupsi pengadaan solar cell (PLTS) di Dinas Pendidikan Kutim pada 2020 juga menjadi sorotan, dengan nilai kerugian negara yang ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah.

Melihat pola yang berulang, Habibi mendesak DPRD Kutim untuk memperkuat fungsi pengawasan melalui evaluasi kinerja secara menyeluruh serta memaksimalkan penggunaan hak-hak legislatif dalam mengawal kebijakan anggaran.

Ia juga menekankan pentingnya transparansi pengelolaan APBD agar dapat diakses publik, sekaligus memperkuat sinergi dengan aparat penegak hukum dalam upaya pencegahan dan penindakan korupsi.

“Sepuluh tahun kasus berulang bukan kebetulan. Saatnya DPRD membuktikan keberpihakannya kepada rakyat,” pungkasnya.

Pada akhirnya, publik hanya bisa berharap para penjaga lumbung benar-benar terjaga. Sebab jika lubang itu terus dibiarkan, mungkin suatu hari nanti yang tersisa bukan lagi padi untuk dibagi, melainkan cerita panjang tentang bagaimana semuanya pernah hilang—secara “terlalu rapi” untuk disebut kebetulan.

Penulis : Kurniansyah

Editor  : Annanda

Berita Terkait

Akhirnya Penetapan Tersangka Dinyatakan Tidak Sah, Yahya Tonang Sebut Sejarah Baru Praperadilan di Kutai Barat
Jalur Ferry Long Bagun Jadi Pintu Sabu, Tim 12 Satgas Citarum BAIS TNI Bekuk Pengedar Tujuan Mess PLTA
Menyisir Jejak APBD: Polisi Geledah BPBD Kutai Barat dalam Kasus Dugaan Penyimpangan Anggaran
DPR RI Diminta Turun ke Kutai Barat, Persoalan Plasma Sawit hingga Dugaan Kriminalisasi Warga Jadi Sorotan
𝐇𝐮𝐤𝐮𝐦 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤𝐧𝐲𝐚: 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐂𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐊𝐚𝐬𝐮𝐬 𝐁𝐞𝐠𝐚𝐥 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐁𝐮𝐤𝐭𝐢 𝐊𝐞𝐬𝐢𝐠𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐏𝐨𝐥𝐫𝐞𝐬 𝐊𝐮𝐛𝐚𝐫
𝐁𝐮𝐝𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐦𝐚𝐧𝐭𝐨 𝐁𝐞𝐛𝐚𝐬, 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤 𝐊𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐣𝐢 𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡 𝐊𝐞𝐚𝐝𝐢𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐊𝐮𝐭𝐚𝐢 𝐁𝐚𝐫𝐚𝐭
“Di Mana Keadilan di Negeri Ini?” — Tangis Anak Yatim Pecah Saat Lahan Keluarganya Digarap PT NPR
Putusan Pengadilan Sudah Terbit, Kompensasi Belum Dibayar: Warga Dilang Putih Bersuara

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 04:06 WIB

Akhirnya Penetapan Tersangka Dinyatakan Tidak Sah, Yahya Tonang Sebut Sejarah Baru Praperadilan di Kutai Barat

Selasa, 23 Juni 2026 - 15:37 WIB

Jalur Ferry Long Bagun Jadi Pintu Sabu, Tim 12 Satgas Citarum BAIS TNI Bekuk Pengedar Tujuan Mess PLTA

Selasa, 9 Juni 2026 - 18:54 WIB

Menyisir Jejak APBD: Polisi Geledah BPBD Kutai Barat dalam Kasus Dugaan Penyimpangan Anggaran

Rabu, 3 Juni 2026 - 09:01 WIB

DPR RI Diminta Turun ke Kutai Barat, Persoalan Plasma Sawit hingga Dugaan Kriminalisasi Warga Jadi Sorotan

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:52 WIB

𝐁𝐮𝐝𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐦𝐚𝐧𝐭𝐨 𝐁𝐞𝐛𝐚𝐬, 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤 𝐊𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐣𝐢 𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡 𝐊𝐞𝐚𝐝𝐢𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐊𝐮𝐭𝐚𝐢 𝐁𝐚𝐫𝐚𝐭

Berita Terbaru

Ilustrasi

Nasional

BNI Perkuat Arah Perbankan Masa Depan Lewat Strategi ESG

Senin, 1 Jun 2026 - 05:03 WIB