Beruang Madu Masuk Permukiman Kutim, Warga Resah BKSDA Turun Tangan

Senin, 6 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan: Beruang madu merupakan spesies beruang terkecil di dunia sekaligus memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, terutama sebagai penyebar biji tanaman. (Dok: Kawalkaltim.com)

Keterangan: Beruang madu merupakan spesies beruang terkecil di dunia sekaligus memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, terutama sebagai penyebar biji tanaman. (Dok: Kawalkaltim.com)

Kawalkaltim.com, Kutai Timur – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bergerak cepat merespons kemunculan beruang madu (Helarctos malayanus) yang masuk ke kawasan permukiman warga di Desa Marah Haloq, Kecamatan Telen, Kabupaten Kutai Timur.

Langkah evakuasi mulai dilakukan setelah intensitas kemunculan satwa dilindungi itu meningkat dalam beberapa hari terakhir. Hewan tersebut dilaporkan berkeliaran dari RT 5, RT 4, hingga kini kerap terlihat di wilayah RT 1 yang lebih padat penduduk.

Pengendali Ekosistem Hutan Muda BKSDA Kaltim, Ahmad Ripai, memastikan tim telah diterjunkan ke lokasi dengan membawa peralatan khusus untuk menangkap beruang secara aman.

“Kami sudah memasang perangkap khusus untuk beruang. Wilayah ini memang berbatasan langsung dengan hutan, jadi kemungkinan besar satwa keluar untuk mencari makan. Jika berhasil ditangkap, akan kami relokasi ke habitat yang lebih aman,” ujarnya, Minggu (05/04/2026).


Muncul Sejak Pra-Ramadhan, Kini Kian Intens

Fenomena kemunculan beruang madu di kawasan ini sebenarnya bukan hal baru. Warga telah mendeteksi keberadaannya sejak sebelum Ramadhan 2026, khususnya di sekitar aliran Sungai Liu.

Sempat menghilang selama beberapa pekan, satwa tersebut kembali muncul pasca-Lebaran dengan frekuensi yang jauh lebih sering. Diduga kuat, beruang-beruang itu tertarik mendekati permukiman karena mencari sumber makanan dari dapur maupun kebun warga.


Induk Beruang Ikut Muncul, Warga Kian Cemas

Kepala Desa Marah Haloq, Gusti Mandala, mengungkapkan bahwa kekhawatiran warga meningkat setelah kemunculan beruang berukuran besar yang diduga merupakan induk dari beruang yang sebelumnya terlihat.

Menurutnya, awalnya warga hanya melihat seekor beruang kecil. Namun kini, keberadaan induk dengan bobot diperkirakan mencapai 60 hingga 70 kilogram turut terpantau.

“Awalnya hanya satu ekor kecil, sekarang kemungkinan sudah bersama induknya. Kami sempat mengusir dengan cara biasa dan sempat hilang, tapi setelah Lebaran justru muncul lagi, bahkan hampir setiap hari terlihat,” jelasnya. Minggu (05/04/2026).

Kehadiran induk beruang ini menjadi perhatian serius, mengingat sifat protektifnya terhadap anak yang berpotensi memicu perilaku agresif jika merasa terganggu.


Warga Diimbau Tidak Bertindak Sendiri

Pemerintah desa bersama BKSDA Kaltim terus berkoordinasi agar proses evakuasi berjalan sesuai prosedur konservasi. Warga diminta tetap tenang dan tidak melakukan tindakan berbahaya terhadap satwa tersebut.

“Kami minta warga tidak bertindak nekat, seperti menembak atau memasang jerat. Ini satwa dilindungi. Kami tidak ingin ada risiko korban, поэтому langsung kami koordinasikan dengan BKSDA,” tegas Gusti. Minggu (05/04/2026).


Beruang Madu, Satwa Penting yang Terancam

Beruang madu merupakan spesies beruang terkecil di dunia sekaligus memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, terutama sebagai penyebar biji tanaman.

Satwa ini hidup di hutan hujan tropis, termasuk wilayah Kalimantan, dengan ketergantungan tinggi pada pohon-pohon besar untuk berlindung dan mencari makan. Kemampuannya memanjat membuat beruang madu sering berada di tajuk pohon.

Di alam liar, mereka mengonsumsi madu, larva lebah, rayap, serta buah-buahan hutan. Namun ketika habitatnya terganggu atau sumber makanan menipis, beruang madu kerap masuk ke permukiman manusia untuk mencari alternatif makanan.

Secara hukum, beruang madu termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan regulasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sementara itu, secara global, statusnya dikategorikan sebagai rentan (Vulnerable) akibat ancaman kehilangan habitat dan perburuan liar.

Penulis: Kurniansyah

Editor : Annanda

Berita Terkait

𝐇𝐮𝐤𝐮𝐦 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤𝐧𝐲𝐚: 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐂𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐊𝐚𝐬𝐮𝐬 𝐁𝐞𝐠𝐚𝐥 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐁𝐮𝐤𝐭𝐢 𝐊𝐞𝐬𝐢𝐠𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐏𝐨𝐥𝐫𝐞𝐬 𝐊𝐮𝐛𝐚𝐫
𝐁𝐮𝐝𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐦𝐚𝐧𝐭𝐨 𝐁𝐞𝐛𝐚𝐬, 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤 𝐊𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐣𝐢 𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡 𝐊𝐞𝐚𝐝𝐢𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐊𝐮𝐭𝐚𝐢 𝐁𝐚𝐫𝐚𝐭
“Di Mana Keadilan di Negeri Ini?” — Tangis Anak Yatim Pecah Saat Lahan Keluarganya Digarap PT NPR
Putusan Pengadilan Sudah Terbit, Kompensasi Belum Dibayar: Warga Dilang Putih Bersuara
Kuota Batu Bara Dipangkas, Ribuan Buruh Tambang Kaltim Terancam Tumbang
Sungai Kenyamukan Kembali Menelan Ketakutan, Bocah 13 Tahun Selamat dari Gigitan Buaya
Bareskrim Bongkar Dugaan “Persekutuan Gelap” Bandar Sabu Kutai Barat, Mantan Kasat Narkoba Terseret
KUHP Baru Jadi “Palang Besi” Judi Online, Kejari Kubar: Ancaman 9 Tahun Penjara Mengintai

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:41 WIB

𝐇𝐮𝐤𝐮𝐦 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤𝐧𝐲𝐚: 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐂𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐊𝐚𝐬𝐮𝐬 𝐁𝐞𝐠𝐚𝐥 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐁𝐮𝐤𝐭𝐢 𝐊𝐞𝐬𝐢𝐠𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐏𝐨𝐥𝐫𝐞𝐬 𝐊𝐮𝐛𝐚𝐫

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:52 WIB

𝐁𝐮𝐝𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐦𝐚𝐧𝐭𝐨 𝐁𝐞𝐛𝐚𝐬, 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤 𝐊𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐣𝐢 𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡 𝐊𝐞𝐚𝐝𝐢𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐊𝐮𝐭𝐚𝐢 𝐁𝐚𝐫𝐚𝐭

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:55 WIB

“Di Mana Keadilan di Negeri Ini?” — Tangis Anak Yatim Pecah Saat Lahan Keluarganya Digarap PT NPR

Sabtu, 16 Mei 2026 - 16:56 WIB

Putusan Pengadilan Sudah Terbit, Kompensasi Belum Dibayar: Warga Dilang Putih Bersuara

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:29 WIB

Sungai Kenyamukan Kembali Menelan Ketakutan, Bocah 13 Tahun Selamat dari Gigitan Buaya

Berita Terbaru

Ilustrasi

Nasional

BNI Perkuat Arah Perbankan Masa Depan Lewat Strategi ESG

Senin, 1 Jun 2026 - 05:03 WIB